blog post

Jakarta - Guna menambah wawasan akan situasi di wilayah ASEAN pasca 2015, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) Universitas Kristen Indonesia (UKI) menggelar Kuliah Umum yang menghadirkan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Yanyan Mochamad Yani MAIR., Ph.D. Para mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) memenuhi ruang seminar di Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur, Rabu pagi (13/09/2017).

Indonesia merupakan negara besar di ASEAN, jadi kehadiran Indonesia di ASEAN merupakan sesuatu yang pengaruh. Tidak akan ada ASEAN kalau Indonesia tidak bergabung,” jelas  Prof. Yanyan di depan ratusan mahasiswa Fisipol UKI yang didominasi angkatan 2016 dan angkatan 2017.

Kehadiran Indonesia di ASEAN sendiri membawa dampak yang besar bagi negara-negara tetangga. Pada tanggal 5 Agustus 1967, lima negara dari negara-negara Asia Tenggara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand mengadakan pertemuan “konferensi” di Bangkok. Dalam konferensi tersebut dihasilkan suatu persetujuan yang disebut dengan Persetujuan Bangkok tanggal 8 Agustus 1967, hadir mewakili Indonesia pada saat itu adalah Menteri Luar Negeri Indonesia, Adam Malik.

Pada masa kepimpinan Presiden Suharto, Indonesia menjadi pemimpin ASEAN, dengan gaya kepimpinannya ketika itu Indonesia mampu menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia juga memperkenalkan doktrin ketahanan nasional pada pertemuan ASEAN ministerial meeting ke-5 di Siangapura melalui Menteri Luar Negeri Indonesia, Adam Malik. Hal itu ditujukan untuk mempertegas tujuan ASEAN.

 

(Sumber : https://www.wartamaya.id/)