E-mail: fisipol@uki.ac.id | Call: +021-80886884  

Diskriminasi Minoritas dan Sudut Pandang Kita

 

 

ok

 

Jakarta – FISIPOL Thinkers Club, UKM riset dan kajian Fisipol UKI telah melaksanakan diskusi Ruang Rasio dengan topik “Diskriminasi Minoritas dan Sudut Pandang Kita” yang diadakan melalui aplikasi Video Call line pada Kamis 25 Juni 2020, Pukul 14.00 WIB. Diskusi dimoderatori oleh William Sulistyo W, ketua UKM Fisipol Thinkers Club dan diikuti oleh anggota-anggota UKM Fisipol Thinkers Club. Selain itu, hadir juga Dary Naufal Mulyawan, S.S., M.A, dosen HI UKI sekaligus pembimbing UKM Fisipol Thinkers Club yang juga ikut memberikan komentar serta kesimpulan secara komperhensif.

Ruang Rasio merupakan kegiatan diskusi rutin dua minggu sekali yang diselenggarakan oleh UKM FISIPOL Thinkers Club yang bertujuan untuk meningkatkan daya nalar dan berpikir kritis mahasiswa Fisipol UKI dalam mencari berbagai solusi atas topik atau permasalahan yang akan diangkat setiap minggunya. Selain itu, Ruang Rasio juga hadir menumbuhkan nilai toleransi, empati, rasa, solidaritas serta saling menghormati satu sama lain.

Minggu ini, Ruang Rasio mengangkat topik “Diskriminasi Minoritas dan Sudut Pandang Kita”. Topik ini terinspirasi dari adanya peristiwa kekerasan rasisme yang akhir-akhir sedang marak di Amerika Serikat. Ruang Rasio juga mengajak para anggotanya untuk menemukan solusi yang sekiranya tepat dan dapat dimplementasikan.

Dalam pemaparan pendapat pribadi, hampir seluruh anggota berpendapat dan sepakat bahwa Diskriminasi merupakan fenomena yang hampir terjadi diseluruh belahan dunia dan selalu ada, selama ada suatu entitas mendominasi suatu kawasan. Praktik diskriminasi dapat saja terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia seperti ras, agama, suku, politik bahkan perbedaan jenis kelamin yang sering terjadi kepada kaum minoritas. Diskriminasi terhadap satu entitas manusia dapat berujung kepada kebencian bahwa menghasilkan kekerasaan terhadap suatu kelompok. Namun dipihak lain, anggota diskusi Ruang Rasio, Briylli juga berpendapat bahwa terdapat sisi positif dari kasus diksriminasi, terutama dalam kasus rasisme yakni dapat meningkatkan solidaritas antar masyarakat internasional seperti yang terjadi dalam kasus rasisme George Floyd.

Selanjutnya, Miranda, anggota diskusi lainnya juga beropini bahwa penurunan angka diskriminasi yang terjadi harus dimulai dari pemerintah karena para masyarakat secara tersirat akan mengikutnya. Adanya penetapan serta penegakan hukum yang berasal dari pemerintah merupakan salah satu jalan yang berpengaruh dalam mengurangi diskriminasi. Lebih lanjut, Miranda juga mengatakan, kesadaran kolektif juga perlu ditingkatkan untuk memastikan bahwa masyarakat benar-benar memahami apa arti diskriminasi serta bagaimana dapat hidup rukun dan berdampingan satu sama lain. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan payung hukum terhadap kasus-kasus diskriminasi merupakan salah satu contoh konkritnya. Pendidikan budi pekerti, serta upaya pengendalian diri juga hal penting lainnya yang perlu diprioritaskan dalam menuntaskan diskriminasi.

Diskusi ini ditutup oleh kesimpulan serta pemaparan opini oleh Dary Naufal Mulyawan, selaku dosen pembimbing UKM FISIPOL Thinkers Club. Menurut Dary, Dari kasus George Floyd dan Rasisme di Amerika, dapat ditemukan bahwa aksi rasisme tersebut  merupakan tindakan dan pemikiran yang terstruktur.  

Tidak hanya di AS, Kasus diskriminasi juga banyak ditemukan di Indonesia. Lahirnya pola pikir jawa sentris, kerentanan emosional yang berlebihan terhadap suatu keyakinan serta masih banyaknya nepotisme yang terjadi dalam instansi pemerintahan dan swasta adalah salah satu bukti nyata yang acapkali terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini di Indoenesia. Dapat disimpulkan pula bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan golongannya ketimbang kepentingan bersama.

“Seharusnya Indonesia dapat mementingkan kepentingan Indonesianya dulu walaupun emang tidak bisa dipungkiri masih banyak gerakan reformasi yang kebablasan. Bisa disimpulkan dalam 75 tahun kemerdekaan, masalah Indonesia masih muter disitu aja belum ada kemajuan.” ujar Dary.

Dary juga mengajak generasi sekarang dan berikutnya untuk dapat membantu menghilangkan stigma dominasi tersebut yang telah lama berada di tengah masyarkat Indonesia.

Kalau di Indonesia, kepentingan golongan tampaknya lebih diutamakan dari kepentingan nasionalnya. Tugas kita sebagai agent of change, ya membantu generasi baby boomer bahwa stigma tertentu dari entitasi tersebut adalah keliru.” lanjut Dary.

Hak Cipta © Universitas Kristen Indonesia