E-mail: fisipol@uki.ac.id | Call: +021-80886884  

Sinergitas dan Solidaritas Melawan Rasisme dan Intoleransi di Indonesia

Editor : Jonaris Saragi - FisipolNews

ok

Jakarta- Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Kristen Indonesia telah menyelanggarakan Webinar bertajuk “Sinergitas dan Solidaritas Melawan Rasisme dan Intoleransi di Indonesia” pada Jumat (01/10/2020). Webinar ini berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom serta disiarkan secara langsung di akun YouTube Sema Fisipol UKI. Di samping itu, kegiatan ini diikuti 150 peserta yakni mahasiswa Fisipol UKI dan  turut diikuti mahasiswa dari luar UKI.

Pembicara dalam kegiatan ini adalah Dr. Yugiantie Solaiman, SS., MA selaku Dosen Fisipol UKI dan Pemerhati Isu Papua, Muhammad Hidayat, M.I.Ikom selaku Dosen LSPR Jakarta dan Relawan Kemanusiaan serta dimoderatori oleh Pearlviona Sarah selaku mahasiswa Fisipol UKI.

Kegiatan ini diawali kata sambutan oleh Karmelia Suryani selaku Ketua Pelaksana Webinar dan dilanjutkan pada sesi pemaparan materi oleh Dr. Yugiantie.

Dalam sambutanya, ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta  dan narasumber yang sudah menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan ini, dan tidak lupa  ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia webinar yang memberikan waktu yang cukup banyak untuk melaksanakan kegiatan ini di tengah situasi pandemi Covid-19.

Lebih lanjut, Karmelia mengaharapkan dengan terlaksananya webinar ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan baru dari berbagai materi yang akan dipaparkan oleh pembicara mengenai “Sinergitas dan Solidaritas Melawan Rasisme dan Intoleransi di Indonesia,dan dapat menyadarkan kita sebagai masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menciptakan rasa persatuan dan kesatuan tanpa adanya rasisme maupun diskiriminasi.

Dalam pemaparanya, Dr. Yugiantie menjelaskan bahwa  Rasisme merupakan salah satu bentuk tindakan sosial yang sering ditemukan dalam Kehidupan masyarakat. Rasisme sering disamakan dengan rasialisme. Rasisme menjadi factor pendorong adanya diskriminasi sosial, kekerasan sosial/rasial, bahkan menjadi pemicu genocide.”

“Revolusi ilmiah pada abad ke-19 telah memberikan konsep ruang yang baru bagi masyarakat dan Darwin mengubah secara radikal dan membuka cara berpikir paraintelektual secara biologis atau yang di sebut dengan ras. Banyak sekali ide-ide para filsuf  yang berpikir bahwa ras kulit putih adalah ras yang paling tertinggi karena pada abad ke-18 orang-orang eropa merupakan elite umat manusia karena ras mereka sangat banyak sekali pada masanya sehingga munculnya prinsip-prinsip evolusioner,” ujar Yugiantie.

Pada webinar kali ini, Yugiantie menceritakan berbagai pengalaman terkait isu-isu rasisme yang dihadapi oleh masyarakat papua dan ia juga menjelaskan secara detail mengenai kekerasan dan perlakuan rasis yang dilakukan oleh aparat kepolisian pasca pengepungan Asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

“secara umum, rasisme bermula dari perbedaan ras (warna kulit) dan ini dibuktikan dengan adanya anggapan atau pandangan suatu kelompok tertentu (mayoritas) bahwa hanya kelompok merekalah yang lebih kuat dibandingkan kelompok lain (minoritas),” ucap Yugiantie.

Sementara itu, diakhir pemaparan materinya ia memberikan sejumlah cara atau langkah-langkah untuk mengatasi rasisme yaitu;

  • Mengakui bahwa keragaman itu ada. Ada banyak hal yang berbeda di dunia ini. Semua perbedaan itu harus kita terima dan akui. Setiap orang memiliki kebudayaan yang berbeda, dan itu harus diterima.
  • Mengembangkan sikap toleran. Toleran itu penting sekali dalam hidup. Toleransi menghindarkan perpecahan karena masing-masing merasa Bahagia.
  • Cinta budaya sendiri boleh, tapi jangan berlebihan. Jangan menentang budaya lain sehingga merasa diri lebih baik/lebih tinggi/lebih hebat.
  • Berteman dengan semua orang dengan latar yang berbeda. Di dunia ini tidak melulu hanya ada orang Jawa dan Sumatera, melainkan ada banyak yang lain. Dengan menjalin pertemanan yang punya latar berbeda, maka toloransi akan tumbuh dalam diri kita, dan
  • Mempelajari budaya daerah atau budaya bangsa lain. Dengan memiliki banyak informasi akan budaya bangsa lain, maka kita akan menghargai perbedaan yang ada.

 “Intoleransi merupakan sifat atau sikap yang tidak menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian atau pendapat pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri,” jelas Muhammad.

Dalam pemaparan materinya ia menjelaskan beberapa faktor penyebab intoleran yaitu; Absolutisme: Kesombongan Intelektual, Ekslusivisme: Kesombongan Sosial, Fanatisme: Kesombongan Emosional, Ekstremisme: Berlebih-lebihan dalam Bersikap, Agresivisme: Berlebih-lebihan dalam Melakukan Tindakan Fisik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hak Cipta © Universitas Kristen Indonesia