E-mail: fisipol@uki.ac.id | Call: +021-80886884  

Konstruksi Sosial Budaya dan Ketidakadilan Gender di Korea Selatan

Sumber : http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions/konstruksi-sosial-budaya-ketidakadilan-gender-di-korea-selatan.html 

Jakarta- Salah satu mahasiswa Prodi Hubungan Internasional FISIPOL UKI, VALENTINE PEBRINA FRISCILA ATARA mahasiswa angkatan 2017 berhasil memperoleh prestasi akademik  yakni,  dengan menerbitkan tulisan dengan judul " Konstruksi Sosial Budaya dan Ketidakadilan Gender di Korea Selatan," tulisan tersebut di publikasikan di website Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tanggal 10 September 2020.  Berikut hasil tulisan dari Velentina; 

 

Istilah gender telah digunakan sejak awal 1970-an untuk menunjukan feminitas dan maskulinitas yang dibentuk oleh budaya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan perbedaan jenis kelamin secara biologis. Gender sebenarnya tidak menjadi masalah apabila tidak melahirkan problematika yang mengarah pada ketidakadilan sosial. Namun, selama ini yang terjadi justru perempuan mengalami diskriminasi dan selalu menjadi pihak yang tersubordinasi di ranah domestik, publik, bahkan dalam film sekalipun. Hal ini menyebabkan perempuan sulit untuk mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki, hanya karena faktor perbedaan jenis kelamin. Artikel ini bertujuan untuk menarasikan persoalan ketidaksetaraan gender di Korea Selatan dan dampaknya secara sosial budaya.

 

Problem Ketimpangan Gender 

Ketidaksetaraan gender merupakan suatu permasalahan yang cukup sulit dihadapi oleh banyak negara termasuk Korea Selatan. Mengingat status ekonomi dan diplomatik yang berhasil diraih Korea Selatan belakangan ini, negara tersebut seharusnya sudah memiliki tradisi modern termasuk dalam perspektif mengenai gender.  Sebagai negara yang mempunyai perekonomian maju ini, ternyata masyarakat Korea Selatan masih memiliki persoalan ketidaksetaraan gender. Ketimpangan antara perempuan dan laki-laki hampir terjadi di segala bidang, misalnya dalam bidang pendidikan, pekerjaan hingga politik. Keadaan ini lebih banyak terjadi di negara yang memegang teguh struktur sosial patriarki, dimana laki-laki mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada seluruh kehidupan dan dianggap patut untuk memimpin dan mendiskriditkan kaum perempuan. Permasalahan ini belum menunjukan  indikasi terwujudnya kesetaraan (equality) antara laki-laki dan perempuan yang merupakan bentuk dari ketidakadilan.

Korea Selatan juga merupakan negara dengan perbedaan gaji antara laki-laki dan perempuan. Namun, masih ada kesenjangan gender yang signifikan dalam partisipasi pasar tenaga kerja. Berdasarkan Data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), hanya 55 persen perempuan Korea dari usia 15 hingga 64 tahun berada dalam angkatan kerja dibandingkan dengan rata-rata 65 persen untuk negara-negara OECD. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (LFPR) Republik Korea secara substansial tertinggal dari laki-laki yang tingkat partisipasinya sekitar 77 persen. Persentasi tersebut mendekati rata-rata OECD sebesar 79 persen. Kini, dengan pukulan pandemi COVID-19, kemajuan yang diraih selama beberapa tahun terakhir terancam kembali mundur. Kesenjangan juga masih lebar dalam posisi kepemimpinan. Data dari kantor statistik menunjukkan, jumlah wanita yang memegang jabatan manajerial di perusahaan swasta besar dan didanai negara adalah 19,8 persen tahun lalu, turun dari 20,6 persen pada 2018. Dalam data yang dikumpulkan oleh Inter-Parliamentary Union, wanita Korea Selatan hanya memegang 19 persen kursi DPR, di bawah rata-rata global 25 persen.

Korea Selatan memiliki budaya unik yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan praktik bisnis masyarakat. Beberapa aspek utama dari budaya unik Korea Selatan yang memiliki pengaruh signifikan dalam berbisnis adalah Kibun, Inhwa, jarak dan hierarki kekuasaan, Konfusianisme dan kolektivisme. Semua aspek penting budaya Korea memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara berbisnis (Lee, 2012), menekankan disiplin dalam pencapaian target yang fleksibel dan toleran (Puspitasari, Musadieq & Prasetya, 2014).

Meskipun telah banyak terjadi perubahan setelah pesatnya perkembangan Korea Selatan, beberapa nilai dalam ajaran Konfusianisme masih dilakukan oleh bangsa ini. Salah satunya adalah hal yang berkaitan dengan peran perempuan, terutama dalam dunia kerja. Ada kejanggalan dalam pembagian pekerjaan di Korea dan terdapat diskriminasi terhadap pekerja perempuan di Korea Selatan. Setelah mempelajari berbagai hal tentang ajaran konfusianisme, diduga ada pengaruh dari ajaran tersebut yang memberikan dampak sosial budaya bagi para pekerja perempuan di Korea Selatan.

Dalam hal ini perempuan Korea masih menemukan masalah tekanan untuk masih harus menjunjung nilai-nilai tradisional. Mereka harus selalu mengatur keadaan keluarga agar tetap stabil. Selain itu, peranan mereka juga dituntut untuk melakukan kontribusi dalam lingkungan sosialnya. Hal ini selalu menjadi pemicu stress dan frustasi yang dialami perempuan korea. Secara tradisional, terdapat ketidakseimbangan antara perempuan dan laki-laki di Korea. Dalam sejarahnya, perempuan merupakan bagian dalam masyarakat yang cenderung terpinggirkan. Kuatnya sistem patriarki yang sangat kuat membuat perempuan berada dalam posisi yang tidak sama dengan laki-laki. Terdapat nilai-nilai sosial dan budaya yang melekat baik dalam masyarakat dan juga institusi pemerintahan yang menjadi hambatan dalam modernisasi masyarakatnya (Palley, 2011).

Perusahaan Korea menerima perempuan sebagai karyawannya karena beberapa faktor, yaitu perempuan merupakan tenaga kerja dengan standar gaji yang lebih rendah daripada laki-laki, perempuan memiliki penampilan yang lebih menarik dan enak dilihat, dan bagi perusahaan Korea memiliki pegawai perempuan dapat memberikan simbol bahwa perusahaannya adalah perusahaan maju. Namun, ketimpangan terjadi bagi para pekerja perempuan yang memutuskan untuk menikah atau melahirkan anak yang mereka merasa harus keluar dari perusahaan. Meskipun memungkinkan bagi mereka akan diterima lagi apabila nanti ingin kembali ke perusahaan, mereka berisiko mendapatkan gaji yang lebih rendah dari waktu sebelum ia keluar dari perusahaan.

Hal ini terjadi karena pola pikiran, yaitu perusahaan akan mengalami kerugian apabila tetap memelihara karyawan yang tidak produktif karena harus mengurus kepentingan pribadinya, seperti mengurus rumah tangga, hamil, melahirkan, menyusui, dan mengurus anak dalam jangka waktu tertentu (Rowley dan Paik, 2009). Sebagai negara yang maju, Korea Selatan masih melanggengkan budaya patriarki. Feminisme menjadi hal yang baru bagi masyarakat Korea yang konservatif dan masih menjunjung tinggi kaum laki-laki. Perempuan masih dianggap nomor dua di lingkungan kerja maupun keluarga

Selama masa pemerintahan presiden Lee Myung Park, Partai Buruh yang menjadi partai oposisi sejak 2008, mengangkat wacana ketidaksetaraan ekonomi dan ketidaksetaraan gender yang sering digambarkan sebagai pertentangan satu sama lain. Wacana yang pertama dibingkai sebagai persoalan material, mewakili politik kelas yang tertindas seperti buruh. Jika persoalan ketidaksetaraan ekonomi ini tidak ditangani maka, akan memperbaiki kesenjangan sosial yang lebih besar. Sebaliknya, wacana yang kedua dibingkai sebagai variasi dari 'politik identitas', di mana kesejahteraan material dihindari demi keberadaan politik representasi (Edwards 2009, 2011, 2013a). Dalam realitasnya, perkembangan ekonomi yang pesat di Korea Selatan tidak diikuti oleh ketidaksetaraan gender. Pada 2006, Forum Ekonomi Dunia memulai penilaian tahunan tentang kesenjangan gender global dalam pemberdayaan perempuan dan tindakan yang dilakukan yang berupaya untuk menangkap dimensi ekonomi, politik dan sosial dari kehidupan perempuan.

 

Penutup 

Menurut Global Gender Gap Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, bahwa kemajuan sebuah negara ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat kesetaraan gender, terutama di Asia Timur, di mana Korea Selatan diurutan 127 dari 153 negara, dikarenakan budaya Korea Selatan memiliki pengaruh yang kuat dalam mengenai budaya patriarki. Korea Selatan menganut kepercayaan Konfusianisme yang terdapat falsafah “Pria Tinggi, Perempuan Rendah”, dari menganut kepercayaan tersebut muncul lah dengan adanya ketidaksetaraan gender di Korea Selatan yang mengakibatkan laki-laki dan perempuan sudah dikotak-kotakkan dengan jenis pekerjaan dan tanggung jawab tertentu, seperti laki-laki mencari nafkah dan perempuan mengurus rumah dan anak. Berdasarkan paparan di muka, dapat diketahui bahwa ketidaksetaraan gender berdampak pada mentalitas perempuan yang mengakibatkan tidak mendapatkan kesetaraan upah kerja. Selain itu, warga Korea Selatan masih kental terhadap kepercayaan Konfusianisme mengkonstruksi pola pikir yang konservatif dalam memandang gender yang tidak setara. (fik)

 

Daftar Pustaka

Amelia Burhan. 2013. Pengaruh Ajaran Konfusianisme Terhadap Perempuan Pekerja di Korea Selatan. Makalah.

Farnisari, Megaria, dan Arief Sudrajat. 2013.  Bias Gender Dalam Film Seri Korea ”Sungkyunkwan Scandal. Makalah

Jack Vowles, Hilde Coffe, dan Jennifer Curtin. 2014. The Gender Dimension of Inequality. Australia: ANU Press. 

Jackson, Stevi,  dan Jackie Jones. 2009. Teori-Teori Feminis Kontemporer. Bandung & Yogyakarta: Jalasutra.

Kim, Jinyoung, Jong-Wha Lee dan Kwanho Shin. 2016. Impact of Gender Inequality on the Republic   of Korea’s Long-Term Economic Growth:An Applicattion of Theoretical Model of Gender Inequality and Economic Growth.  Asian Development Bank. 473: 1.

Lee, C.Y. 2012.  Korean Culture And  Its  Influence  on  Business  Practice in  South  Korea.  The  Journal  of International Management Studies. 7(2):184–191.

Lestari, Reni. 2020. Di Korsel, Pandemi Perburuk Kesenjangan Gaji Berdasar Gender. https://kabar24.bisnis.com/read/20200914/19/1291182/di-korsel-pandemi-perburuk-kesenjangan-gaji-berdasarkan-gender. (5 Oktober 2020).

Meijer, Maarten. 2005. What’s So Good About Korea, Maarten?. Korea: Hyeonamsa Publishing Rowley, Chris and Yongsun Paik. 2009. The Changing Face of Korean Management. New York: Routledge.

Palley, Marian Lief. 2011. Women’s Status in South Korea: Tradition and Change. Asian Survey. 30(12): 1135-1153.

Puspitasari, I., Musadieq, M.A., & Prasetya, A. (2014). Analisis Gaya Kepemimpinan Lintas Budaya Ekspatriat (Studi Penelitian pada PT. Haier Sales Indonesia, Jakarta Utara). Jurnal Administrasi Bisnis . 8(1):1-10.

Roces, Mina, dan Louise Edwards. 2010. Women’s Movements in Asia: Feminism and Transnational Activism. New York: Routledge.

Hak Cipta © Universitas Kristen Indonesia